Cinta kan agungkanmu jika kaupun
mampu menjaganya. Tapi ia juga kan
merendahkanmu jika kau tak mampu
menjaganya hingga ia lepas dan
mengamuk di lubuk hatimu.
Kau kan terus menjadi hamba bagi
cintamu. Waktumu kan terus
terkekang olehnya. Nafasmu
berhembus hanya untuknya.
Jantungmu berdetak hanya deminya.
Tangan, kaki, hingga sadarmupun kan terus dimilikinya. Sadar, ataupun
tanpa kau sadari, segala hatimu tlah
dimilikinya.
“Ketika kau dirasuki cinta, akal
sehatmu kan terbelenggu. Terikat
begitu erat. Hingga hatimupun takkan
mampu melepasnya”.
“ Ketika cinta mengikatmu, takkan
mampu kau melepaskannya. Karena
yang hanya mampu melepasnya,
hanyalah nyawamu yang terputus”
Akankah kau mesti terus-terusan larut
dalam jeratnya? Padahal itu hanya
kan buatmu terluka?
Saat ini, apakah kita memang
menghamba pada cinta?
Atau cintalah yang menjadi hamba kita?
Tanyakan pada hatimu.
Tanyakan lebih dalam.
Karena jawaban yang kau temukan,
adalah sebenar-benarnya jawaban.
Jika kau temukan jawaban cintalah
yang menghamba padamu.
Tersenyumlah, karena yang kan kau
temukan adalah kebahagiaan dan
kedamaian yang kau dapatkan dari
cinta.
Tapi jika kaulah penghambanya.
Bersiaplah. Sadarkan lelapmu.
Karena yang kan kau temukan
hanyalah rasa tersiksa yang diberikan
oleh cintamu. Karena cinta memiliki
dua sisi yang berbeda. Ia kan mampu jadi penawar sepimu, tapi juga
mampu menyepikanmu meski kau
berada pada keramaian di
sekelilingmu. Sepertipun ia yang kan
menjadi penawar lukamu meski ia
pun kan tawarkan kepedihan tuk relung jiwamu.
Takkan selamanya cinta itu indah.
Karena keindahan hanyalah milik hati
yang mampu menjaga cinta dan
kesuciannya. Dan takkan selamanya
cinta itu pedih. Karena kepedihan
hanyalah milik hati yang tak segan lukai cintanya.
“ Hatimu mungkin indah. Tapi
sungguh, ia kan menjadi lebih indah
bersama cinta. Karena jika hatimu
adalah taman, maka cintalah bunga-
bunganya”
Cinta…
Sering ku mendengar kata itu. Tak
hanya sekali, dua kali atau tiga kali.
Bahkan mungkin sudah ribuan kali
atau jutaan kalinya. Kata itu begitu
indah terasa di telingaku. Begitu akrab, begitu ku kenal.
Banyak hal yang mereka ceritakan
tentang cinta. Tentang sepinya.
Tentang ramainya. Tentang
tertawanya, tentang menangisnya.
Tentang terluka, hingga bahagianya.
Semua karena cinta. Semua oleh cinta.
Cinta...
Terkadang ku sendiri tak mengerti
tentangnya. Begitu banyak arti
tentang cinta. Yang ku lihat,
kudengar, maupun ku rasa.
Cinta itu seperti api.
Yang mampu membakar ego.
Melemahkan kesombongan dan
mampu menghangatkan kesepian.
Cinta akan selalu hangatkanmu jika
kaupun menyentuhnya dengan hangat. Tapi ia kan membakarmu jika
kau coba tuk meracuninya.
Cinta itu seperti air.
Yang mampu hanyutkanmu dalam
pusaran mimpi dan harap. Ia kan
membawamu terus melayang di
dunia yang tak kau kenali. Yang
hanya ada senyum dan tawa. Yang hanya mengenal rindu dan cinta.
Cinta kan sejukkanmu dengan
percikan dan tetes-tetes
kesejatiannya. Jikapun kau coba tuk
menepikannya, kau kan terbawa arus
derasnya dan takkan kau temukan
lagi tempat terakhir kau berpijak.
Cinta itu pelangi.
Yang kan selalu dan selalu tawarkan
keindahan di langitnya. Merah untuk
pengorbananmu. Kuning untuk
penantianmu. Dan hijau untuk
kehangatanmu. Kan tawarkan padamu warna-warna itu. Tuk hiasi di
tiap langkah-langkah kecil di harimu.
Dan sungguh, kau kan terlena oleh
karenanya.
Cinta itu bintang.
Yang kan terus terangi tiap malam
dan sepimu. Meski kau terlelap. Meski
kau tengah coba tuk lupakan
sgalanya demi tenangmu. Bersama
rembulan, ia kan terus menjaga tidurmu. Hingga kau temukan cahaya
pagi di sela-sela jendela kamarmu.
Cinta menjadikan yang kuat menjadi
lemah. Tapi cinta juga mampu
menjadikan yang lemah menjadi
kuat.
Tak heran jika banyak yang hilang
segala sadarnya hanya karena tak
mampu menjaga cintanya. Bukan
cinta yang salah. Karena rasa cinta,
tak pernah salah dan takkan pernah
salah. Pecinta sendirilah yang terkadang tak mengerti dengan apa
yang mesti ia lakukan untuk cintanya.
Hingga tanpa sadar ia tlah salah
dalam melangkah.
Online : 1 user Hari ini : 1 user Bulan ini : 1 user Total : 450 Visitor