Cinta adalah rasa. Dan rasa tak
mengenal arah. Tak mengenal
tempat. Karena rasa memang takkan
pernah mau mengenalnya.
Cinta kan hadir dimana saja. Kapan
saja. Saat terjaga, atau terlelap. Saat
pagi atau malam hari. Saat panas
atau saat dinginnya.
Cinta kan hadir saat kita mulai
membuka mata untuk pertama
kalinya. Hingga saat kita menutup
untuk yang terakhir kalinya. Tak ada
syarat. Tak ada ketentuan. Cinta kan
hadir dimana dan dari mana saja. Sadar, atau tanpa sadar.
Karena itulah cinta. Cinta begitu
misterius. Cinta begitu menjadi teka-
teki yang tak pernah selesai tuk
dipecahkannya.
“Cinta kan hadir seperti air yang
mengalir. Dan akan pergi seperti
debu yang diterbangkan angin”
“ Cinta akan datang padamu saat kau
coba kembangkan kedua tanganmu.”
Jangan pernah coba tuk merapatkan
kedua tanganmu dan kau coba tuk
menjauh darinya. Karena saat cinta
hadir dan kau menolaknya, mungkin
ia takkan datang lagi padamu. Meski
kau menangis darah mengharapnya.
Biarkan saja ia datang. Biarkan saja ia
hadir. Meski kau tak
mengharapkannya. Biarkan ia datang
seperti air yang mengalir. Karena kau
takkan pernah tahu kapan kau akan
membutuhkannya. Biarkan saja ia rasuki hatimu dan temanimu di setiap
langkah-langkah kecilmu. Karena
meski kau tak mengharapkannya, ia
kan menjadi pelita di gelapmu
sehingga kau temukan terang di
hatimu.
“Cinta itu pelita. Yang kan bawa kau
pada terangnya. Hingga kau tak perlu
lagi takut tuk berjalan dalam gelap.
Meski ribuan duri terhampar di
hadapmu”
Takkan kau temukan rasa sesal saat
kau coba tanamkan cinta di hatimu.
Meski ia tak tumbuh semestinya, tapi
ia kan tumbuh menjadi wewangi
untuk taman hatimu. Kau tak perlu
bersusah payah tuk siraminya. Karena cinta kan tumbuh dengan sendirinya.
Tapi jikapun kau siraminya. Ia kan
jadi penghias di lubuk hatimu. Ia kan
jadi keindahan tuk dasar jiwamu.
Terserah.
hendak kau jadikan apa cinta tuk
hatimu.
Siapa pemilik cinta….
Siapapun berhak mencintai dan
dicintai. Tak mesti seorang pangeran
dari negeri hayalan, tapi juga milik
seorang petani kecil dari negeri
kesedihan. Tak perlu seorang putri
dengan gaun pestanya, tapi cintapun milik gadis kecil dengan baju
lusuhnya.
Cinta kan hadir pada siapapun yang
dikehendakinya. Tanpa mesti
diundang. Tanpa harus kau panggil.
Tanpa pandang harkat. Tanpa tatap
martabat. Karena cinta untuk
semuanya.
Setiap orang kan mengalami saat
dimana ia mencintai ataupun dicintai.
Meski tanpa ia sadari. Takkan
selamanya kau merasa dicintai,
karena kan tiba waktunya kau kan
merasa mencintai. Dan takkan selamanya kau harus merasa tersiksa
karena mencintai, karena kan tiba
saatnya kau merasa dicintai.
Bumi ini kan terus berputar. Dan akan
selalu begitu. Seperti itupun
kehidupan ini. Takkan selamanya kau
bisa mengulas senyum manis di sudut
bibirmu, karena kan ada riak air mata
yang kan jatuh dan basahi pipi merahmu. Takkan selamanya kau
tertawa riang dan menepuk dada,
karena kan tiba saatnya kau harus
menangis dengan sedu sedanmu.
Adalah satu kebodohan yang sangat
besar jikalau seseorang termenung
sendiri. Meratap, menjerit dalam luka
yang mendalam dan menganggap
semua tlah berakhir. Hanya karena ia
kehilangan satu cinta di sudut hatinya.
Tahukah kita, dalam hati kita ada
ribuan tempat yang tengah siap tuk
disinggahi oleh cinta-cinta yang
tersebar di sekeliling kita. Dari cinta
yang berada tepat di sisi kita, hingga
cinta yang berada jauh dan tak tertatap oleh mata. Lalu, mengapa
kita mesti terus menangis dan
meratapi luka?
Jika kau fikir semua tlah berakhir
hanya karena ia meninggalkanmu,
itulah kelemahan hatimu. Cinta
takkan pernah meninggalkanmu.
Sampai kapanpun. Yang
meninggsalkanmu hanyalah pecintanya. Bukan cintanya.
Apakah kau tak berfikir, ada cinta-
cinta lain yang kini tengah
menatapmu. Mengharap sentuhan
jemari lembutmu, menanti keteduhan
dari hatimu. Meski terkadang ia malu
dan bersembunyi diantara semak- semak rasa ragu.
Bukankah yang kita butuhkan
bukanlah cinta yang apa adaanya?
Tapi cinta yang suci, murni dan tak
tersentuh oleh dusta ataupun
pengkhianatan?
Saat kau kehilangan satu cinta, tak
perlu kau terus larut dalam tangismu.
Karena ada cinta-cinta lain yang hadir
di sekelilingmu.
Ada cinta dari ibu. Ada cinta dari
saudaramu. Ada cinta dari sahabat
terdekatmu. Ada juga cinta dari
orang-orang yang menyayangimu.
Yang sungguh-sungguh
menyayangimu. Mungkinkah kau telah melupanya?
Buang semua fikiran kecilmu. Dunia
belum berakhir. Dan takkan berakhir
hanya karena ia yang
meninggalkanmu.
Pejamkan matamu. Dan bayangkan.
Segala cinta yang selama ini kau dapatkan dari mereka. Dari orang-
orang yang telah tulus mencintaimu.
Karena sungguh, terkadang kita sama
sekali tak menyadarinya.Atau memang kita enggan tuk
menyadarinya?
Tanyakan pada hatimu.
Kita begitu bodoh larut dalam cinta
semu. Cinta yang hanya kan
membuaimu saat kau tak mampu
menjaganya. Dan semakin bodoh
karena kita terkadang begitu mudah
melupakan cinta sejatinya.
Cinta sejati bukanlah cinta yang
hanya meminta. Tapi juga bisa
memberi. Bukan hanya ingin
dimengerti. Tapi juga harus bisa
mengerti.
Cinta sejati adalah cinta yang bisa
menerimanya dengan segala
keadaannya. Tanpa harus meminta
kesempurnaan yang hanya kan
membuatmu semakin dangkal.
Tahukah kita, semakin kita
mengharapkan kesempurnaan, kita
kan semakin merasa kekurangan.
Kan banyak rasa ketidakpuasan yang
selama ini terpendam.
Cinta sejati adalah cinta yang tulus.
Cinta yang murni. Tanpa dikotori
dengan dusta. Apalagi tipu daya.
Itulah cinta yang sesungguhnya.
Cobalah. Coba bangun cinta
sejatimu. Dari mulai saat ini. Buka
hatimu. Lupakan semua hayal
tentang putrid atau pangeranmu.
Karena ini bukan dunia mimpi. Ini
adalah nyata.
Kita begitu bodoh larut dalam cinta
semu. Cinta yang hanya kan
membuaimu saat kau tak mampu
menjaganya. Dan semakin bodoh
karena kita terkadang begitu mudah
melupakan cinta sejatinya.
Cinta memang untuk semuanya.
Untukku, untukmu, untuknya, dan
untuk mereka. Tapi cinta sejati?
Apakah aku memilikinya? Atau kau
yang milikinya?
Dia? Mereka?
Atau siapa?
Online : 1 user Hari ini : 1 user Bulan ini : 1 user Total : 422 Visitor