Pernahkah kau tanyakan pada
hatimu. Cinta seperti apa yang kau
miliki. Cinta macam apa yang tengah
kau jalaani. Tahukah kamu tentang cinta yang
sebenarnya?
Saat kau mencintainya karena
kecantikannya. Ketampanannnya.
Karena ada bunga-bunga di hatimu
saat kau menatapnya. Itu adalah
cinta mata. Dan bukan itu cinta yang
sebenarnya.
Saat kau mencintainya karena lekuk
tubuhnya yang begitu mempesona.
Itu adalah cinta ragawi. Bukan itu
pula yang kau perlukan.
Atau kau mencintainya saat kau
mengetahui kecerdasannya,
kekayaannya, kedermawannya,
keindahannya, atau segala bentuk
dirinya, itu hanyalah cinta pada hawa
nafsu. Dan bukan itu pula cinta yang sebenarnya.
Cinta yang sebenarnya takkan
memandang itu semua. Cinta yang
sebenarnya adalah rasa cinta yang
tumbuh saat kau menutup matamu.
Menyumbat telingamu dan
membisukan lidahmu. Biarkan hanya hati yang berfikir dan merasakannya.
Saat hatimu merasa kedamaian dan
kesejukan jika di dekatnya. Jika
disentuhnya. Itulah cinta. Cinta yang
sebenarnya.
Jangan kau gunakan matamu tuk
menatap segala bentuk jasad
jasmaninya, miliknya, atau keindahan
yang terpancar darinya. tapi tataplah
pada tingkah laku dan keanggunan
sikapnya.
Janganlah kau gunakan telingamu
tuk mendengar segala bentuk kata-
kata manis, atau segala janji-janjinya.
Tapi dengarkanlah segala bentuk
kejujurannya. Segala bentuk
keterbukaan dan rasa menerimanya.
Karena jasad adalah rapuh. Yang kan
hancur dan hilang bersama waktu.
Karena ucap adalah dusta. Yang
hanya menyimpan sedikit kejujuran
daripada kebohongannya.
"Cinta adalah keabadian. Takkan
pernah bisa hilang meski kau coba
tuk leburkannya. Takkan pernah bisa
lenyap, meski kau coba asingkannya.
Karena cinta kan selalu ada, hingga
kau tetap bisa bernafas”.
Perjalanan Cinta
Takkan pernah ada yang akan
mengira kapan cinta kan datang.
Kapan ia kan terhenti, kapan ia kan
hadir mengganti cinta lain yang tlah
hilang, dan kapan ia kan
meninggalkan sang pencinta.
Cinta hadir begitu saja. Tanpa perlu di
panggil. Tanpa perlu di undang. Kita
hanya bisa berharap dan menanti,
kapan saatnya ia kan hadir dan
mengisi satu sudut dan ruang di hati.
Cinta memang misterius. Ia seperti
angin. Yang kadang hanya berlalu di
hadapan kita. Tanpa menoleh
apalagi menyapa. Tapi kadang ia
seperti pagi. Yang kan selalu
menyapa kita. Mesti tak kita pinta.
Tapi itulah cinta. Kehadirannya
semoga kan memberi satu keindahan
tuk obati segala sepi di hati.
Kehadirannya semoga kan menjadi
bagian dari segala perjalanan hidup
yang takkan abadi.
Awal dari perjalanan cinta
Cinta berawal dari mata. Mata yang
menatap pada keindahan sejati yang
di sebut kekasih. Belahan jiwa.
Separuh hati.
Berawal pada mata yang hanya
menatap. Tatapan yang tak tak
berarti apa-apa. Yang kan berubah
secara perlahan, atau kadang tiba-
tiba. Berubaha menjadi perasaan hati
yang kadang tak dimengerti.
Mungkin kita sering merasa aneh.
Saat awal menatapnya, sama sekali
tak ada rasa yang terbesit apalagi
terwujud di hati. Tapi bersama waktu,
satu bulan, satu minggu, satu hari
atau bahkan satu detik kemudian, ada yang lain yang hadir dan
bersarang di sudut hati.
Tak ada yang istimewa padanya. Tak
ada yang lebih dari jasadnya. Tapi
entah mengapa, hati tiba-tiba begitu
memikirkannya, atau bahkan
mungkin merindunya,
mengharapnya. Apa yang sebenarnya yang telah terjadi?
Mata kita hanya menangkap. Hati
kitalah yang kan menyimpannya.
Mata kita hanyalah memandang, hati
kitalah yang kan merasanya.
Tak ada yang salah. Mata ataupun
hati. Karena inilah cinta.
Cinta takkan mengenal tentang
kecantikan. Cinta takkan peduli pada
ketampanan, kekayaan, kecerdasan,
derajat, martabat, ketenaran,
keagungan sikap, atau lain
sebagainya.Cinta hanya mengenal pada yang
bernama kecocokan. Ketertarikan.
Perasaan.
Tak ada yang salah jika seorang
pangeran mencintai gadis miskin. Tak
ada yang salah jika putri raja
mencintai seorang penggembala. Tak
ada yang salah jika si cantik
mencintai si buruk rupa. Dan tak ada yang salah jika seorang raja
mencintai seorang wanita penjaja
cinta.
Itulah cinta. Tak perlu ada ketidak
mengertian. Karena cinta tak bisa di
gambarkan. Cinta hanya bisa
dirasakan.
Cinta enggan mengenal kecantikan,
ketampanan, kekayaan, harkat,
derajat, ataupun martabat karena itu
hanyalah sebuah hiasan. Perhiasan
dunia. Hiasan yang kan rusak. Oleh
ruang. Oleh waktu.
Takkan abadi kecantikan. Takkan
selamanya kekayaan. Dan takkan
kekal sebuah kehormatan.
Jikapun sang pecinta memandang
dan mencintainya. Itu bukanlah cinta
sesungguhnya. Itu hanyalah hati
yang dikotori nafsu. Bukan cinta
sebenarnya.
Tak perlu berbangga dan berbesar
hati dengan segala kelebihan
sehingga banyak yang mencintai.
Karena semua itu adalah semu.
Sebuah tipu daya nafsu. Apa kau
yakin itu cinta? Bukan nafsu karena kan dapat satu kebahagiaan atau
keindahan dengan apa yang
dimilikimu?
Bukan cinta melarang kita tuk
menatapnya. Memilihnya. Cinta
hanya takut dan enggan tuk hadir di
hati yang dikotori oleh nafsu. Karena
yang kan di dapatkan bukanlah cinta
sejati, tapi hanya nafsu yang takkan terhenti.
Mengapa cinta Siti Nurbaya berlabuh
pada Samsul Bahri? Bukannya Datuk
Maringgih yang memiliki segalanya?
Mengapa cinta Layla begitu kuat
pada Majnun yang bukanlah siapa-
siapa?
Karena cintanya sejati. Karena itulah
cinta yang sesungguhnya. Cinta yang
tak silau pada segala kelebihannya.
Cinta yang seperti itu kan terus abadi,
meski tlah lepas nyawa.
Bukankah cinta seperti itu yang di
harapkan hati? Bukankah cinta
seperti itu yang di inginkan diri?
Jika kau ingin mencintainya sejati dan
berharap mampu mewujudkan satu
cinta yang sejati dan abadi, pejamkan
matamu. Tutup mata, butakan. Tutup
telinga, tulikan. Rapatkan bibirmu,
bisukan. Dan tanyakan pada hatimu, benarkah kau mencintainya.
Sungguhkah kau mengharapkannya.
Karena hati takkan pernah bisa
berdusta. Karena jawaban hati adalah
jawaban yang sebenar-benarnya.
Jika kau mencintainya karena
kecantikannya, sadarkan dirimu.
Karena itu hanya kan buat kau
terjerat pada yang namanya cinta
palsu. Akankah kau mencintainya lagi
jika hilang kecantikannya?
Jika kau mencintainya karena
kekayaan yang dimilikinya,
bangunkan. Bangunkan dirimu dari
segala hayal yang berkepanjangan.
Tanyakan pada hatimu, apa mungkin
kau kan tetap mencintainya saat ia kehilangan segala kekayaannya?
Sadar dan bangunkan jasadmu.
Bisikkan pada hatimu. Semua itu
palsu. Semua itu tak benar adanya.
Kembalilah pada jalan cinta yang
sebenarnya. Jalan yang kan bawamu
pada keindahan dan kebahagiaan selamanya.
Online : 1 user Hari ini : 2 user Bulan ini : 2 user Total : 452 Visitor