Cintailah ia apa adanya. Dengan
segala kebaikan, kelebihan dan
kekurangannya. Tak ada yang abadi.
Tak ada yang kekal. Tapi rasa cinta
yang tulus, rasa cinta yang abadi, kan
terus mengalir dan menyatu bersama hati, sampai satu saat nanti. Sampai
mati.
Tak ada yang sempurna. Tak
seorangpun yang mampu memiliki
segalanya.
Ingatlah. Diatas langit masih ada
langit. Dibawah tanah, masih ada
tanah.
Jikapun kita mencintainya karena
berharap pada kecantikannya, kan
kau temukan lagi yang lebih cantik
darinya. Jika kau mencintainya
karena kekayaannya, kan kau
temukan lagi yang lebih kaya daripadanya. Mungkinkah kita takkan
tergoda, sedangkan cinta lain
menggodanya?
Hati yang dipenuhi oleh nafsu, takkan
pernah bisa merasakan satu
kepuasan. Satu kebahagiaan yang
sejati. Kan selalu ada rasa kurang,
kurang dan selalu berharap yang
lebih. Sampai kapan? Sampai kapan kau kan temukan batas dari segala
harapmu?
Cobalah. Coba bangun cintamu
dengan sebenar-benar cinta. Cinta
yang benar-benar lahir dari hati.
Lubuk hati yang terdalam. Bukan dari
mata, telinga, bibir atau sentuh
tanganmu.
Karena kan kau temukan satu
kebahagiaan yang kan kau rasakan
di hatimu. Bukan hanya untuk hari ini,
ataupun esok. Tapi untuk selamanya.
Jadikan hatimu sebagai sahabat dari
perjalanan hidupmu. Jadikan hati
sebagai sandaran dan jawaban dari
segala pertanyaan dan
ketidakmengertianmu. Karena hati
takkan pernah mendustaimu. Karena hati adalah sumber dari segala
kepastian.
Percayalah. Kan kau dapatkan cinta
yang sesungguhnya jika kaupun
memulainya dengan kesucian
hatimu.
Cinta yang suci terlahir dari hati yang
suci. Dan cinta yang palsu terlahir dari
hati yang dipenuhi nafsu.
Lalu, cinta mana yang kau harapkan?
“ Cintailah ia dengan sebenar-benar
cinta. Karena cinta sebenarnya kan
bawamu pada harap dan mimpimu.”
“ Cinta sejati terlahir dari hati. Bukan
pada mata yang menatap. Bukan dari
telinga yang mendengar, bukan pula
dari bibir yang berucap. Karena cinta
sejati adalah cinta yang hadir dari
matinya semua indra, kecuali rasa.”
Persinggahan Cinta
Saat cinta tlah melewati pada batas
persinggahan pertamanya. Cinta kan
melangkah pada persinggahan
keduanya. Persinggahan kedua dari
perjalanan cinta adalah rasa
mengharap, menghayal dan memimpi.
Saat mata tlah bertemu mata. Saat
hati tlah menyambut hati, kan kau
rasakan rasa pengharapan itu di
hatimu. Kau kan berharap tuk
disapanya, ditatapnya, bahkan di
dekatinya.
Hatimu kan berharap tuk mampu
dekatnya. Bila mungkin disentuhnya.
Inilah cinta. Jika kau mulai
merasakannya, benih cinta tlah mulai
tumbuh di taman hatimu.
Kan kau temukan satu rasa yang
begitu indah, yang begitu berbunga
di lubuk hatimu. Senyummu kan
mulai terlihat, detak jantungmu kan
smakin rapat terdengar. Jika bukan
cinta, apa yang sedang kau rasakan?
Disinilah. Saat inilah cintamu kan
mulai berkembang. Kan mulai
tumbuh dari tunas kecil yang kan
berubah menjadi bunga. Saat inilah
cintamu mulai tumbuh menjadi
kepongpong yang kan berubah menjadi kupu-kupu.
Biarkan saja. Nikmati segala rasa
yang mengalir di hatimu. Nikmati
manisnya. Nikmati keindahannya.
Karena kan kau rasakan hidupmu
yang menjadi lebih hidup.
Dan sadar ataupun tidak, rasa itu kan
berubah menjadi hayal. Secara
perlahan. Kan kau rasakan segala
hayal yang mulai muncul dan menari-
nari di otakmu, di fikiranmu, di dunia
imajimu.
Kan kau rasakan hayal itu selalu. Dan
selalu. Di setiap waktumu. Di setiap
harimu. Di setiap detikmu. Andai ia
menghampirimu, menyapamu,
dengan senyum manis yang
mengembang dari sudut bibirnya. Atau mungkin menyentuh tanganmu.
Andai….
Kan kau temukan senyum yang
begitu saja mengembang di bibirmu.
Sendiri. Dengan sendirinya.
Bukanlah satu hal yang indah, jika
kau mulai hanyut dalam dunia
hayalmu. Karena dengan hayalmu,
segalanya kan menjadi mungkin. Tak
ada yang tak mampu kau lakukan
jika kau tengah berada pada dunia hayalmu.
Saat ini, daun-daun dari pohon
cintamu mulai tumbuh. Yang mulai
mekar dan berkembang bersama
hijaunya. Subur dan tak kekurangan.
Jangan pernah takut dan enggan tuk
berhayal. Meski hanya sekedar hayal.
Karena hayal adalah nyawa baru tuk
hidupmu. Satu sisi lain dari hatimu.
Meski kau pun tak perlu terlalu lama
berada di dunia hayalmu. Karena yang ada dihadapmu adalah dunia
nyata. Dunia yang apa adanya. Yang
kan berjalan dengan dan tanpa andai
ataupun jikalau.
Andai, jikalau, hanya kan menjadi
sebuah kata yang bisa digunakan
pada hayalmu. Tak untuk dunia
nyatamu. Kembali sadarkan
fikiranmu. Lekas lupakan segala
hayal itu. Tatap nyata yang ada di hadapmu. Lakukan sesuatu. Jangan
biarkan kau tersesat pada hayal dan
mimpimu.
Ketika cinta tlah bawamu pada harap
dan hayal, ia kan kembali buaimu
dalam dunia mimpi.
Segala keindahan mimpi kan hadir
pada lelapmu. Di setiap malam-
malammu. Bayangannya kan terus
menghantuimu. Menari-nari di
otakmu. Yang kan rampas segala
kebebasan berfikirmu.
Kan kau rasakan kegelisahan itu. Dan
rasanya, ketenanganmu kan mulai
semakin hilang. Hanya karena
kehadirannya yang terus terlukis di
fikirmu. Kau kan mulai merasa
tersiksa dengan segala rasa yang tengah terjadi padamu. Dan sialnya,
hanya kehadirannya sajalah yang
mampu mengobatinya.
Saat ini tlah tumbuh satu dua ranting
kecil di pohon cintamu. Meski masih
rapuh, itu terasa begitu menyiksa
batinmu. Bukankah ini yang
dinamakan cinta? Satu cinta yang
mulai tumbuh di hatimu.
“ Bukanlah ini yang dinamakan cinta?
Saat mulai kau rasa gelisah itu di
hatimu, saat tak hadirnya ia di
hadapmu dan atau mungkin hadir
hanya di dunia hayalmu”
Online : 1 user Hari ini : 1 user Bulan ini : 1 user Total : 483 Visitor